Gambar dari Google
Selingkuh.
Sebuah kata yang sangat dihindari dalam sebuah hubungan.
Membaca dari sebuah artikel dan quote yang saya sudah lupa sumbernya, selingkuh merupakan hal yang dapat terjadi secara berulang.
Jadi sekali seseorang berselingkuh, maka akan ada yang kedua, ketiga, dan ke-.. ke-.. selanjutnya.
Namun tidak jarang yang benar-benar menepati janjinya untuk tidak selingkuh lagi.
Kalau kata temenku Sudarto, selingkuh itu ada 2.
Selingkuh fisik dan selingkuh hati.
Selingkuh fisik sama sekali tidak menggunakan hati, hanya sekedar tertarik karena fisik dan ingin menikmati.
Sedangkan selingkuh hati, adalah perselingkuhan yang rela melakukan apa saja untuk selingkuhannya.
Biasanya seseorang yang diselingkuhi bisa merasa trauma, bahkan ada yang sampai tidak bisa menjalin sebuah hubungan lagi karena merasa takut akan diselingkuhi lagi.
Berdasarkan pengalaman pribadi dan orang sekitar, setiap orang memiliki respon yang berbeda-beda ketika diselingkuhi.
Dari pengalaman-pengalaman ini, kalian diluar sana yang suka berselingkuh, masih berselingkuh, akan berselingkuh. Tergeraklah hati kalian, untuk meghindarinya.
1. Pemberi Harapan Palsu
Pagi itu aku pulang kampung ke daerah Jawa Barat, rutinitas wajib saat liburan kuliah dan menjelang hari raya. Pacarku Bima mengantar sampai aku naik angkutan umum sebelum ia berangkat kerja.
Hari itu semua baik-baik saja, kami masih baik-baik saja. Tidak ada sesuatu yang berbeda, tidak ada sesuatu yang harus dicurigai.
Tetapi tentu Allah SWT punya cara untuk membuka mataku, sehari sebelum aku pulang kampung kupasang aplikasi untuk back-up sms di handphone Bima. Tujuannya hanya iseng, mengetes kesetiannya.
Seminggu kemudian aku kembali, masih baik-baik saja. Masih bercengkrama dengan keluarganya, jalan-jalan dan berbincang akrab. Lalu tiba-tiba aku penasaran dengan aplikasi back-up sms yang kupasang, dan sangat terkejut dengan hal yang kutemukan. Rasanya, tidak bisa diungkapkan. Sesak. Emosi. Kalut.
Pesan-pesan singkat yang tidak seharusnya ada dari wanita di masa lalu, diam-diam mereka bertemu tanpa sepengetahuanku. Dibelakangku ia menjanjikan sesuatu kepada wanita itu, diwaktu yang kupikir ia sedang sibuk bekerja karena tidak membalas pesanku ternyata ia sedang berbalas pesan dengan wanita itu. Berkali-kali aku menemukan artefak perselingkuhannya, namun ia berhasil mengelak dengan bilang wanita itulah yang selalu mengejarnya dan ia tidak menanggapi. Aku percaya begitu saja, karena aku yakin ia tidak akan begitu. Aku yakin wanita itulah yang genit, terus menggoda Bima walau ia tidak menanggapi. Berkali-kali aku membanggakannya didepan keluargaku, menutup mata dengan hal-hal yang berbau perselingkuhan. Namun inilah cara Allah SWT menunjukkannya kepadaku, membuka mataku.
Siang itu dalam perjalanan menuju bandara, untuk mengantar kakaknya yang akan pulang ke seberang pulau. Kami duduk di belakang, dan aku hanya bisa menatap keluar jendela sembari menahan air mata. Aku sudah menunjukkan pesan-pesan itu, ia sedang menggenggam tanganku menahan agar aku tidak lepas kendali. Jijik rasanya. Aku benar-benar menahan diri karena tidak ingin merusak suasana.
Hari itu sepanjang hari aku berakting semampuku, tidak ada apa-apa dan aku harus bersikap biasa.
Sesampai dirumahnya, iya bersimpuh dipangkuanku meminta maaf atas apa yang sudah ia lakukan. Namun itu tidak mengurangi rasa sakit dihatiku, terlebih karena kami sudah merencanakan pernikahan. Orang tua kami sudah saling bertemu, tidakkah ia berpikir bahwa tindakannya itu dapat menyakiti hatiku dan orangtuaku?
Ia menjelaskan bahwa hal itu ia lakukan karena merasa tidak enak telah berhutang budi kepada ayah si wanita tersebut, bukankah yang ia lakukan sangat berlebihan?
Tidak seharusnya ia bersikap seperti itu, didepanku bersikap seolah dia tidak menanggapi. Tetapi tenyata dibelakangku ia seperti memberi harapan kepadanya, dan sangat jelas dari bahasa di pesan-pesan tersebut dia memang selingkuh.
Lalu semua artefak perselingkuhan itu terbayang kembali diingatanku, ooh ternyata sms itu... ooh berarti sore itu dia ke... ooh waktu itu dia tidak bisa menjemputku karena... ooh nomor itu ternyata nomornya si... ooh selama 2 tahun ini dia tidak pernah mau kerumahku karena... ooh kemarin dia liburan sama si... ooh ternyata bukan hanya wanita itu yang genit, tetapi... ooh ternyata selama ini aku sudah salah menilai.. Biar apa dia PHP-in anak orang? Biar dibilang ganteng? Bangga deket sama banyak cewe? Bangga banyak cewe yang berharap? Entahlah, hanya dirinya dan Allah SWT yang tau jawabannya.
Beberapa hari berlalu, aku sudah mulai bisa menerima dan memaafkannya. Aku masih ingin memberinya kesempatan, dari orangtuaku sendiri sudah memintaku untuk menyudahi hubungan ini.
Tetapi aku masih merasa ada harapan untuk hubungan ini, dan tanpa sepengetahuan mereka aku masih menjalin hubungan dengan Bima. Ibarat vas bunga yang pecah, itulah hatiku. Walau sudah disatukan kembali, tetap masih menyisakan bekas retakannya.
Apakah ia akan menjadi lebih dekat dengan keluargaku?
Apakah dia benar-benar tidak akan selingkuh lagi?
Apakah dia akan memperlakukanku dengan spesial?
Masih belum bisa terjawab.
Siang itu dia mengajakku kerumah sakit, Ibunya sakit dan dirawat inap. Saat aku datang, Ibunya memelukku sambil menangis. Dia meminta maaf atas semua yang sudah terjadi. Aku teringat saat aku mengatakan kepadanya bahwa anaknya selingkuh. "Ngga mungkin, cewenya aja kali yang genit."
Aku sudah bilang bahwa aku memiliki buktinya dan bukan hanya dengan satu wanita saja, tetapi anaknya PHP dengan beberapa wanita. Lalu dengan santai Ibunya berkata "Mama sih gimana Bima aja, semua keputusan ada ditangan dia mau pilih siapa."
Kalau bukan karena tidak mau membuat kehebohan mungkin aku sudah teriak-teriak menangis histeris. Lalu menurut anda orangtua saya sudah kesini dan merencanakan pernikahan itu dianggap apa?
Mungkin Ibunya menyadari bahwa perkataannya itu sudah menyakiti hatiku, karena itulah dia menangis sambil memelukku. Aku? Entah kenapa ikut menangis, merasa bahwa semua sia-sia. Malah membuka luka lama. Aku jadi berpikir, kalau kami menikah nanti dia akan membela anaknya walaupun anaknya yang salah.
Apakah aku salah telah memilih untuk bertahan?
Aku bertahan bukan tanpa alasan, bukan karena tidak ada pria lain. Aku hanya menganggap ini sebuah cobaan untuk mengarah ke jenjang pernikahan. Sudah banyak yang aku lakukan untuk bisa diterima di keluarganya. Tunggu. Lalu apa yang sudah dia lakukan untuk keluargaku?Dia tidak pernah datang kerumahku, dia tidak pernah bertanya tentang keluargaku, dia tidak pernah menelpon Ibuku. Bahkan untuk diriku sendiri dia lebih memilih menyuruhku naik ojek daripada menjemputku. Perlahan aku mulai menyadari kebodohanku.
Di hari-hari dia mencoba untuk mendapatkan cintaku lagi, dia sempat berucap "Kamu tau ngga hari ini hari apa?" Aku menggeleng karena benar-benar tidak tau. "Seharusnya hari ini kita menikah, kamu sih ngga mau sabar." Matanya berlinang. Aku ikut berlinang, namun dalam hati 'Masih aja ini orang gengsi nya gede, dia yang membuat semuanya gagal karena berselingkuh tapi aku yang disalahin karena ngga sabar.
Tidak berapa lama dari hari itu, Ibuku mengetahui bahwa kami kembali menjalin hubungan. Ibuku menelponnya dan bilang bahwa sebaiknya jangan buru-buru menikah, selesaikan dulu kuliahnya. Dan dengan gengsinya yang tinggi dia menjawab "Iya Ma, tolong bilangin ke Riana nya ya. Bima juga belum mau nikah buru-buru, tapi Riana nya ngajakin nikah."
Sebagai seorang Ibu apa yang kamu rasakan mendengar jawaban seperti itu?
Dia sudah menyelingkuhi anakmu, membuat anakmu menangis karena sakit hati. Dan sekarang dia menjawab seperti itu seolah tidak ingin menikah dengan anakmu, dan anakmulah yang mengejar-ngejar dia. Bukannya meminta maaf terlebih dahulu atas apa yang sudah dia lakukan dan berbicara yang baik untuk mengambil hati Ibuku. Tapi malah dengan angkuhnya menjawab seperti itu.
Seketika itu juga Ibuku menelponku dan mencaritakan semuanya, kali ini hatiku lebih sakit dari sebelumnya.
Kalau kamu seorang Ibu atau kamu berada di posisiku, apa yang kamu rasakan dan lakukan?
Aku saat itu juga memutuskan bahwa semua ini sudah benar-benar berakhir.
Kalau dia merasa bersalah dan menyesal mungkin dia akan menghubungiku untuk meminta maaf, tetapi dia memiliki gengsi yang sangat tinggi.
Dia pernah bilang "Kalau kamu menikah dengan orang lain aku pasti akan nyesel banget."
Dan itulah yang dia dapatkan, penyesalan seumur hidup.
*SELESAI*
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
2. Ariska
Aku dan suamiku sudah berpacaran cukup lama, sejak dari berpacaran itu aku sudah tau bahwa dia adalah tipe laki-laki yang suka berselingkuh. Namun aku terus bertahan karena berharap dia akan berubah, dan jujur akupun menaruh banyak harapan kepadanya karena dia anak dari keluarga berada. Dia masih kuliah dan memiliki mobil pribadi, Nissan Juke kendaraan yang cukup mahal untuk digunakan oleh anak kuliahan. Aku yakin ditempat kuliah nya ada banyak wanita yang tertarik kepadanya, dan itu terbukti hingga kini. Ada banyak wanita yang mendekatinya meski mereka tau dia telah menikah denganku dan sudah memiliki anak.
Salahku memang, mau melakukan apa saja demi bisa untuk bersamanya. Sampai melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan sebelum kami sah menjadi suami istri. Pada awalnya dia tidak mau bertanggung jawab, memang aku tidak hamil. Tetapi lebih baik tidak perawan berstatus janda daripada tidak perawan dan tidak berstatus. Setidaknya orang tau bahwa aku sudah menikah dan wajar sudah tidak perawan. Oleh karena itu aku mendatangi orangtua suamiku dan meminta mereka untuk menikahkan kami. Beruntung bagiku, orangtuanya mengerti bahwa anak mereka salah. Sehingga akhirnya kami dinikahkan, dan darisini harapanku agar suamiku berubah hanya sekedar harapan.
Anak kami bahkan belum lahir, dan dia sudah berselingkuh dengan wanita lain. Teman kuliahnya. Wanita itu tau aku istrinya dan sedang hamil. Tapi dia tetap bersama suamiku dengan alasan suamiku akan menceraikan aku. Sakit? Tentu saja. Aku sedang hamil dan sewajarnya wanita hamil ingin bermanja kepada suami, ingin lebih dimengerti, ingin diperhatikan. Dan yang aku dapat? Kekecewaan.
Perselingkuhan itu terus berlanjut, hingga anak kami lahir. Ariska, bayi kecil yang kurang beruntung.
Dia terlahir dengan kekurangan, dia lahir sebagai anak down syndrom. Dan memiliki ayah peselingkuh. Namun apapun yang terjadi, Ariska adalah penguat. Menguatkan hatiku diantara kesakitan ini. Membuatku terus bertahan untuk hidup.
Belum ada satu tahun Ariska lahir, Allah SWT memanggilnya kembali. Dengan hati yang sangat hancur dan penuh kesedihan aku harus menghadapi semua ini. Aku harus menerima malaikat kecilku kembali kepada-Nya, aku yakin Ariska akan lebih bahagia disana.
Tidak jarang untuk meringankan beban dihati aku berbagi kisahku dengan sahabat dekat. Setiap kali mereka mendengar ceritaku, tidak sedikit yang bilang "Untuk apa bertahan? Lebih baik mencari yang lebih baik. Kamu berhak bahagia."
Dan terkadang aku ingin melakukan seperti saran mereka.
Hanya aku masih memiliki harapan, dan ketakutan. Aku takut tidak bisa mendapatkan yang lebih baik. Aku takut bila mengakhiri ini aku akan takut untuk memulai lagi. Aku takut nanti akan mengalami hal yang sama untuk kesekian kalinya. Aku takut tidak bisa merelakannya jatuh dipelukan wanita lain. Dan masih banyak ketakutan-ketakutanku yang lain.
Ada kalanya mereka bosan mendengar ceritaku, karena lagi dan lagi aku akan memaafkan dan menerima nya kembali. Entah mengapa aku merasa tidak rela bila kami berpisah.
Beberapa bulan kemudian, aku hamil lagi. Aku merasakan ada perubahan dari suamiku untuk kehamilan yang kedua ini. Aku merasa dia lebih baik dari sebelumnya, dan lebih perhatian. Harapanku semakin besar, aku yakin bila aku bertahan ia akan menjadi baik sepenuhnya.
Alhamdulillah anak kedua kami lahir dengan sehat dan selamat.
InsyaAllah dengan adanya Ibra, suamiku bisa menjadi ayah dan suami yang baik.
3. Tak Sayang Lagi
Sudah 2 tahun aku dan Ryan menjalani masa pacaran, kami sudah sangat dekat. Keluarga kami pun sudah sangat saling mengenal, aku dan Ibunya sering berkirim pesan. Yang pasti dalam hubungan ini kami berharap bisa ke jenjang yang lebih serius.
Dalam masa-masa pacaran kami, Ryan merupakan laki-laki yang dewasa. Kalau mau mengajakku keluar dia selalu meminta ijin ke Ibuku, dia juga selalu mengantar dan menjemputku karena khawatir bila aku harus naik kendaraan umum. Selain itu dia juga ontime, selalu datang tepat waktu. Dan yang paling Ibuku suka adalah dia tidak pernah berbohong, selalu menjawab segala sesuatu seperti yang sebenarnya.
Namun entah kenapa belakangan ini dia berubah, sudah sering melewatkan waktu untuk menjemputku. Sudah sering melewatkan waktu untuk bertemu denganku, aku berpikir mungkin dia sibuk.
Hingga tanpa dia tau aku datang ketempatnya bekerja, dia sedang bersama wanita lain.
Aku pulang dengan perasaan kecewa, sakit hati, sedih. Aku galau.
Dia datang dan memohon padaku untuk memaafkannya, diapun memohon maaf kepada Ibuku.
Yang pasti kini sudah tidak seperti dulu, perasaan ini sudah tidak sama lagi.
Tetapi aku masih menyayanginya, dan akupun dengan mudah memberikan kesempatan kedua.
Kami memulai dari awal, tetapi tetap saja tidak bisa sama seperti dulu.
Ada curiga..
Ada khawatir..
Ada sedih yang tiba-tiba datang..
Ada sakit hati yang tiba-tiba terasa kembali..
Ada takut..
Ada keinginan untuk menyudahi..
Semua rasa yang ada datang silih berganti..
Yang pasti cinta ini sudah tidak seutuh dahulu..
Mungkin hambar..
Hingga aku ragu apakah masih ada harapan..
Hingga kata-kata itu keluar darinya..
"Kita putus aja ya, aku sudah ngga sayang lagi sama kamu kayak dulu.."
Dan aku sakit hati lagi, dengan orang yang sama.
Tapi satu hal yang pasti akan selalu melekat dihatinya.
Aku tidak pernah mengakhiri lebih dulu.
4. Pasrah & Berserah
Aku punya seorang teman, darinya aku belajar ikhlas dan pasrah.
Waktu itu di sela-sela makan siang kami bercerita tentang hubungan dalam pernikahan kami.
Aku yang trauma dengan perselingkuhan bersikekeuh bahwa kalau suamiku berselingkuh makan aku akan meninggalkannya. Tidak ada kesempatan kedua apapun alasannya, karena diawal hubungan aku sudah mengingatkannya tentang hal ini.
Namun perkataan temanku itu membuatku sadar, bahwa apapun di dunia ini adalah milik Allah SWT. Yang kita miliki saat ini adalah titipan, dan bisa diambil kapan saja.
Saat itu aku bertanya "Kalau suamimu berselingkuh gimana?"
Dia menjawab dengan santai, "Ah itu mah sudah biasa, waktu masih pacaran dulu juga dia pernah ketauan selingkuh. Aku minta dia pilih aku atau cewe itu, dan dia pilih aku. Jujur aja setelah menikah, apalagi sekarang aku lagi hamil. Kekhawatiran itu semakin besar, dulu aku lebih putih dan lebih terawat dari sekarang. Karena selama hamil aku bener-bener ngga berani pake apapun untuk kecantikan, khawatir berbahaya untuk kehamilan aku. Tapi dari masa lalu aku belajar pasrah, bahwa kapan aja Allah bisa mengambil suami aku dari aku. Bisa melalui wanita lain, bisa juga melalui kematian. Dan aku harus bersiap-siap dan pasrah diri dari sekarang, supaya ngga kaget nantinya. Jadi aku mencintai suami aku sewajarnya aja."
Aku mencerna omongannya dengan pertentangan dihati, antara bisa atau tidak nya aku seperti itu.
Tapi yang pasti sangat sulit untuk bisa mempunyai pemikiran seperti itu, harus benar-benar ikhlas dan pasrah. Harus benar-benar mengerti bahwa kita tidak boleh mencintai sesuatu melebihi cinta kita kepada Allah SWT.
5. Akhirnya Menikah
Sebagai pendengar curhat, kita hanya bisa menjadi pendengar yang baik dan pemberi nasihat yang harus berlapang dada.
Kenapa?
Karena dibalik curhatan dan saran yang kita beri, kita tidak pernah menjalani apa yang dijalani oleh si pencurhat.
Jadi keputusan terakhir ada ditangan pencurhat dan tetap Allah SWT yang menentukan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Seperti seorang temanku, yang sudah kesekian kalinya diselingkuhi oleh pacarnya.
Aku dan teman-teman yang lain sampai bosan mendengar ceritanya dan memberikan nasihat yang sama.
Tentu saja nasihat nya adalah,
"Untuk apa bertahan dengan orang yang bahkan tidak menghargai kita?"
"Masih banyak lelaki lain yang lebih baik yang mau sama kamu, dan lebih bisa menjaga perasaan kamu."
"Single lebih baik daripada punya pasangan tapi sakit hati terus."
Dan masih banyak nasihat-nasihat lain yang penuh dukungan untuk mengakhiri hubungan dengan si pasangan tukang selingkuh.
Dari sini kembali lagi, terkadang wanita tidak tahan menghadapi perbedaan ketika masih bersama pasangannya dan ketika mencoba untuk sendiri.
Ada rasa kehilangan yang mendalam, tidak ada yang bisa di chat atau yang menge-chat, tidak ada yang antar jemput, tidak ada teman jalan, bahkan mereka terjebak didalam moment kebahagian dengan pasangan di masa lalu. Yang mana saat ini mungkin hal itu udah langka terjadi, karena lebih seringnya sakit hati.
Adapun rasa tidak rela untuk mengakhiri hubungan yang sudah lama, sudah terlanjur dekat dengan keluarga, dan ada juga yang merasa rendah diri bahwa tidak ada lagi yang mau dengan dia selain pacarnya yang tukang selingkuh itu. Karena selama ini pertemanannya sangat dibatasi, sehingga dia tidak punya satupun teman laki-laki.
Dan yang paling dalam adalah karena sudah terlanjur cinta, lebih baik tersakiti daripada harus kehilangan.
Hmm.. hmm..
Tapi itulah, kita tidak boleh menjudge seseorang selamanya tukang selingkuh, bisa saja ia mendapatkan hidayah dan berubah.
Harapan itu masih ada, tapi jangan terlalu berharap girls.
Kalian itu berharga!!
Intinya adalah kalau kalian berjodoh maka kalian pasti akhirnya akan menikah dengan dia.
Jadi biarkan dia memperjuangkan kalian, kalau memang dia sudah berubah dan ingin membina hubungan yang serius dengan kalian.
Jangan bertahan dalam hubungan yang tidak membuat kalian bahagia, jangan memaksakan.
Jodoh ngga kemana.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar